Identitas Buku
:
Judul buku : Seluk-Beluk Tunarungu & Tunawicara
Serta Strategi Pembelajarannya
Penyusun : Ahmad Wasita
Penerbit : JAVALITERA
Tahun terbit : 2013
ISBN : 978-602-98182-2-2
Halaman : 92 halaman
Resensi Buku :
Sebagai makhluk sosial yang
hidup di tengah masyarakat, tentunya komunikasi menjadi salah satu faktor
pendorong dalam kehidupan sehari-hari. Namun,apa yang terjadi jika seseorang
memliki keterbatasan dalam hal mendengar maupun berbicara? Bagaimana cara mereka
berkomunikasi? yang mana komunikasi menjadi suatu hal yang sangat diperlukan
dalam kehidupan bermasyarakat.
Maka,untuk menjawab
pertanyaan dan kekhawatiran masyarakat terhadap isu dan masalah tersebut, saya
sebagai penulis menyarankan kita semua untuk membaca serta memahami buku yang
berjudul Seluk-Beluk Tunarungu & Tunawicara
Serta Strategi Pembelajarannya.
Buku yang disusun oleh Ahmad Wasita ini menjelaskan tentang seluk-beluk dunia penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara. Buku ini akan membahas mulai dari hakikat tunarungu dan tunawicara, penyebab,
dampak, karakteristik penyandang, metode pengajaran, hingga bahasa isyarat yang digunakan oleh para penyandang tunarungu
dan tunawicara dalam berkomunikasi di kehidupan sehari-hari.
Bahasa yang digunakan padat dan jelas, juga mudah
dipahami oleh orang biasa yang belum mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan tunarungu dan
tunawicara. Setiap bab materi memiliki poin-poin penting yang menjelaskan detil
informasi yang sedang dibahas. Selain itu terdapat beberapa ilustrasi yang mana
dapat membantu kita dalam memahami materi ini.
Buku ini memiliki tebal 92 halaman, tentunya kertas
yang digunakan cukup kuat dan tahan lama. Sementara itu, tinta dan huruf yang
dicetak cukup jelas dan mudah dibaca. Penempatan spasi juga cukup lebar
sehingga mata tidak mudah lelah saat membaca.
Pertama-tama kita disuguhkan dengan penjelasan mengenai pendahuluan dan
pokok masalah yang dijumpai sekitar dunia tunarungu dan tunawicara hingga berbagai macam problematika yang dihadapi baik penyandang
disabilitas maupun orang-orang yang ada disekitarnya.
Lalu, buku ini menjelaskan tentang hakikat tunarungu dan
tunawicara serta pengertian dan pengelompokan jenis-jenis
penyandang disabilitas berdasarkan beberapa faktor.
Di bab selanjutnya, kita akan diajak lebih mendalami
mengenai penyebab, karakteristik, dan dampak dari ketunarunguan dan
ketunawicaraan. Ada banyak informasi yang mendetail serta disajikan secara
padat dan jelas.
Pada Bab IV buku karangan Ahmad Wasita ini menjelaskan tentang pelayanan
pendidikan usia dini pagi para penyandang disabilitas tunarungu. Penulis juga menjabarkan pengertian dan ruang lingkup pendidikan usia dini bagi penyandang
tunarungu serta pendekatan dan program pembelajaran yang sesuai.
Strategi pembelajaran menjadi topik utama pada bab
selanjutnya.
Setelah itu, pembaca akan dijelaskan mengenai metode
pembelajaran berupa Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI). Metode
ini berfungsi untuk mengetahui dan menganalisa performa pendengaran para
penderita tunarungu sehingga pengajar mampu mengambil strategi dan metode yang
tepat dalam menangani kebutuhan tiap ABK tersebut.
Bab VII mengambil topik strategi pembelajaran
keterampilan menulis. Penulis menjelaskan pentingnya keterampilan menulis bagi
penyandang tunarungu serta berbagai macam metode dan strategi dalam
membelajaran sesuai dengan tahapan pelajar.
Pembaca akan mempelajari strategi pembelajaran dengan
Metode Maternal Reflektif (MMR) pada bab selanjutnya. Metode ini menggunakan
cara komunikasi yang luwes dan bersahabat layaknya komunikasi antara ibu dengan
anak.
Sebelum masuk ke bab penutup, kita disuguhkan terlebih
dahulu tentang bahasa isyarat dengan pokok bahasan Sistem Isyarat Bahasa
Indonesia (SIBI). Diantara sekian banyaknya bahasa isyarat yang ada, SIBI
menjadi salah satu pedoman dalam bahasa isyarat yang dipakai di Indonesia. Pada
bab ini pembaca akan diperkenalkan dengan pengertian bahasa isyarat dan
beberapa contoh bahasa isyarat yang sederhana.
Materi pentingnya pendidikan inklusi bagi anak
berkebutuhan khusus menjadi bab penutup pada buku ini. Pendidikan inklusi
sendiri merupakan sistem dimana semua murid penyandang disabilitas termasuk
tunarungu dan tunawicara ditempatkan di tempat yang sama dengan murid lain
dengan penanganan yang berbeda. Sistem ini berfungsi agar murid penyandang
disabilitas memiliki kesempatan untuk bergaul dengan teman sebayanya sehingga
dapat menghindari berbagai macam hambatan seperti sikap antisosial dan depresi.
Di bagian akhir buku terdapat glosarium yang memuat
penjelasan mengenai beberapa istilah yang sulit dipahami. Selain glosarium,
terdapat penutup yang merangkap sebagai kesimpulan dari materi-materi yang
disampaikan di bab-bab sebelumnya.
Kelebihan
dan kekurangan buku :
Kelebihan:
- Materi padat dan jelas
- Dapat digunakan sebagai acuan untuk orang tua dan guru
- Sangat Informatif
- Bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh masyarakat biasa
Kekurangan:
- Terdapat beberapa salah ketik dan salah eja
- Ilustrasi kurang jelas bagi beberapa orang
- Beberapa paragraf ditulis terlalu panjang
- Gambar belum berwarna
Kesimpulan:
Buku ini memuat informasi-informasi dasar yang sangat penting
mengenai penyandang tunarungu dan tunawicara sehingga sangat direkomendasikan
bagi berbagai golongan baik calon pengajar, orangtua, maupun masyarakat awam
agar memahami dan menyadari pentingnya bantuan yang dibutuhkan oleh penyandang
tunarungu dan tunawicara.
credit :
Buku yang menjadi referensi ini merupakan koleksi buku di perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta

Komentar
Posting Komentar